Selasa, 19 Juni 2012

Bentuk-Bentuk Kesalahan Berbahasa Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 2009 dalam Proses Diskusi Kelompok


1.        Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
            Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan bahasa untuk berkomunikasi dengan manusia yang lain. Setiap bahasa memiliki tata bunyi, tata kalimat, tata paragraf, dan tata wacana masing-masing, atau dengan kata lain setiap bahasa memiliki sistem bahasanya sendiri termasuk juga dengan bahasa Indonesia. Hal tersebut tentu menjadi masalah bagi pembelajar bahasa khususnya pembelajar bahasa Indonesia. Sistem bahasa Indonesia yang berbeda dengan sistem bahasa ibu yang sering dipakai oleh pembelajar bahasa merupakan salah satu penyebab terjadinya kesalahan berbahasa. Kesalahan berbahasa adalah penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tertulis yang menyimpang dari faktor-faktor penentu berkomunikasi atau menyimpang dari norma kemasyarakatan dan menyimpang dari kaidah tata bahasa Indonesia (Setyawati, 2010:10).
            Diskusi kelompok merupakan salah satu metode pembelajaran yang banyak digunakan dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran ini banyak diterapkan mulai dari sekolah dasar sampai dengan sekolah tinggi. Metode ini banyak diminati karena dalam prosesnya dinilai sangat efektif untuk membangkitkan minat belajar siswa. Siswa tidak harus selalu menerima materi dari guru, namun siswa secara berkelompok mencari materi dan mempresentasikannya di depan kelas. Metode diskusi juga membuat siswa lebih berani untuk menyampaikan pendapatnya.
            Sebagai sebuah metode pembelajaran, maka dalam pelaksanaan diskusi kelompok pemateri maupun peserta haruslah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun dalam praktek diskusi kelompok khususnya pada diskusi kelompok yang dilakukan oleh mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2009 terjadi beberapa kesalahan berbahasa. Kesalahan berbahasa tersebut antara lain kesalahan berbahasa tataran fonologi,morfologi, dan sintaksis.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah bentuk-bentuk kesalahan berbahasa mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2009 dalam proses diskusi kelompok
2.      Bagaimanakah seharusnya penggunaan bahasa yang benar dalam proses diskusi

1.3  Tujuan
           Makalah ini disusun untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk kesalahan berbahasa mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2009 dalam proses diskusi kelompok. Selain untuk mengetahui bagaimana seharusnya bentuk bahasa yang digunakan dalam proses diskusi kelompok.

2.        Landasan Teori
                 Penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan faktor-faktor penentu berkomunikasi atau penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan norma kemasyrakatan bukanlah berbahasa Indonesia dengan baik. Berbahasa Indonesia yang menyimpang dari kaidah atau aturan tata bahasa Indonesia merupakan berbahasa yang tidak benar. Jadi, kesalahan berbahasa adalah penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tertulis yang menyimpang dari faktor-faktor penentu berkomunikasi atau menyimpang dari norma kemasyarakatan dan menyimpang dari kaidah tata bahasa Indonesia.
                 Kesalahan berbahasa dapat terjadi karena tiga kemungkinan antara lain sebagai berikut:
1.      Terpengaruh bahasa yang dikuasai terlebih dahulu,
2.      Pemakai bahasa kurang memahami  kaidah-kaidah bahasa yang dipakainya,
3.      Pengajaran bahasa yang kurang tepat atau kurang sempurna.
                 Menurut Tarigan (dalam Setyawati, 2010:13) kesalahan berbahasa dalam bahasa Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi:
1.      Berdasarkan tataran linguistik, dapat diklasifikasikan menjadi kesalahan berbahasa di bidang fonologi, morfologi, sintaksis (frasa, klausa, kalimat), semantik, dan wacana,
2.      Berdasarkan kegiatan berbahasa atau keterampilan berbahasa dapat diklasifikasikan menjadi kesalahan berbahasa dalam menyimak, berbicara, membaca, dan menulis,
3.      Berdasarkan sarana atau jenis bahasa yang digunakan dapat berwujud kesalahan berbahasa secara lisan dan secara tertulis,
4.      Berdasarkan penyebab kesalahan tersebut terjadi dapat diklasifikasikan menjadi kesalahan berbahasa karena interferensi, dan
5.      Kesalahan berbahasa berdasarkan frekuensi terjadinya dapat diklasifikasikan atas kesalahan berbahasa yang paling sering, sering, sedang,kurang, dan jarang terjadi.
                 Kesalahan berbahasa Indonesia dalam tataran fonologi dapat terjadi baik penggunaan bahasa secara lisan maupun tertulis. Sebagian besar kesalahan berbahasa Indonesia dalam tataran fonologi berkaitan dengan pelafalan. Kesalahan pelafalan meliputi: kesalahan pelafalan karena perubahan fonem, kesalahan pelafalan karena penghilangan fonem, dan kesalahan pelafalan karena penambahan fonem.
                 Kesalahan berbahasa dalam tataran morfologi adalah kesalahan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Kesalahan berbahasa dalam tataran morfologi disebabkan oleh berbagai hal. Klasifikasi kesalahan berbahasa tataran morfologi antara lain: penghilangan afiks, bunyi yang seharusnya luluh tapi tidak diluluhkan, peluluhan bunyi yang seharusnya tidak luluh, penggantian morf, penyingkatan morf, pemakaian afiks yang tidak tepat, penentuan bentuk dasar yang tidak tepat, penempatan afiks yang tidak tepat pada gabungan kata, dan pengulangan kata majemuk yang tidak tepat.
                 Ramlan (dalam Setyawati, 2010:53) mendefinisikan sintaksis sebagai bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase. Kesalahan dalam tataran sintaksis antara lain berupa: kesalahan dalam bidang frasa dan kesalahan dalam bidang kalimat.

3.        Pembahasan
Terdapat beberapa kesalahan berbahasa dalam proses diskusi yang dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2009. Berikut akan disajikan beberapa data, analisis kesalahan, serta pembenaran terhadap kesalahan berbahasa ketika proses diskusi berlangsung.
I.          Kesalahan Berbahasa Tataran Fonologi
a.       Perubahan fonem vokal
Data 1:
           “Mungkin dari temen-temen ada yang ingin ditanyakan mengenai mitos penciptaan?”
Pada kalimat di atas kata” temen-temen” mengalami perubahan fonem vokal yaitu fonem “a” dilafalkan menjadi fonem “e” sehingga menyebakan pelafalan tersebut tidak baku. Pelafaln yang baku adalah “teman-teman”. Kalimat yang benar adalah: ”Mungkin dari teman-teman ada yang ingin ditanyakan mengenai mitos penciptaan?”

Data 2:
           “Pinter-pinter semua ya jadi tidak ada yang ditanyakan pada kelompok kami?”
pada kata “pinter-pinter” terdapat perubahan pelafalan fonem yaitu fonem “a” dilafalkan menjadi fonem “e” sehingga menyebabkan pelafalan kata tersebut tidak baku. Pelafalan kata yang seharusnya dipakai dalam kalimat tersebut adalah “pintar-pintar”. Jadi, kalimat yang benar adalah “Pintar-pintar semua ya jadi tidak ada yang ditanyakan pada kelompok kami.”

Data 3:
           “Pada Interferensi sintakses terdapat kalimat nanti malam dinner                ya?”
Pada kata “sintakses” terdapat perubahan pelafalan fonem “i” menjadi “e” sehingga mengakibatkan pelafalan kata tersebut tidak baku. Pelafalan kata yang seharusnya dipakai dalam kalimat terseut adalah “sintaksis”. Jadi kalimat yang benar adalah “Pada interferensi sintaksis terdapat kalimat nanti malam dinner ya?”

b.      Penambahan fonem Konsonan
Data 1:
           “Cobak kita perhatikan sambutan-sambutan yang ada pada acara    pernikahan dengan yang ada pada acara kematian...”
Pada kata “cobak” terdapat kesalahan pelafalan yaitu penambahan fonem “K” sehingga menjadikan pelafalan kata tersebut tidak baku. Seharusnya kata tersebut dilafalkan “coba”. Jadi, kalimat yang benar adalah ““Coba kita perhatikan sambutan-sambutan yang ada pada acara pernikahan dengan yang ada pada acara kematian...”

Data 2:
           “Saya mau tanyak tentang perbedaan contoh interferensi     morfologi dengan campur kode...”
Pada kata “tanyak” terdapat kesalahan pelafalan yaitu diakhir kata terdapat penambahan fonem “k” sehingga menyebabkan pelafalan menjadi tidak baku. Pelafalan yang baku dari kata tersebut adalah “tanya”. Jadi, kalimat yang benar adalah ““Saya mau tanya perbedaan contoh interferensi morfologi dengan campur kode...”

c.       Penghilangan fonem vokal
Data 1:
           “Karna kita tahu agama Hindu adalah agama yang ada di   Indonesia pertama kali, maka...”
Pada kata “karna” terdapat kesalahan pelafalan yaitu terdapat penghilangan fonem “e” sehingga menyebabkan pelafalan tidak baku. Pelafalan yang baku dari kata tersebut adalah “karena”. Jadi, kalimat yang benar adalah “Karena kita tahu agama Hindu adalah agama yang ada di Indonesia pertama kali, maka...”

Data 2:
           “Kurang lebihnya kami mohon maaf, salamualaikum wr.wb.”
Terjadi penghilangan fonem “a” pada kata “salamualaikum” sehingga menyebabkan pelafalan kata tersebut tidak baku. Pelafalan kata yang baku dalam kalimat tersebut adalah “asalamualaikum”. Maka kalimat yang benar adalah “Kurang lebihnya kami mohon maaf, Asalamualaikum wr.wb.”

d.      Penghilangan fonem vokal rangkap menjadi vokal tunggal
Data:
           “Contohnya kalo kita meminta uang kepada orang tua pada             awalnya kita melakukan basa-basi.”
Pada kata “kalo” terdapat kesalahan pelafalan fonem vokal rangkap “au” dilafalkan menjadi “o” sehingga pelafalan kata tersebut menjadi tidak baku. Pelafalan kata yang baku pada kalimat di atas adalah “kalau”. Sehingga kalimat yang benar adalah “Contohnya kalau kita meminta uang kepada orang tua pada awalnya kita melakukan basa-basi.”

II.       Kesalahan Berbahasa Tataran Morfologi
a.         Penghilangan prefiks ber-
Data:
    “Saya mau tanyak tentang perbedaan contoh interferensi     morfologi dengan campur kode.”
Pada tataran fonologi kata “tanyak” merupakan kata yang mengalami penambahan fonem konsonan dalam pelafalannya. Sedangkan pada tataran morfologi kata “tanyak” mengalami penghilangan prefiks ber- sehingga merupakan bentuk kata yang tidak baku dalam penggunaan di dalam sebuah kalimat. Kata “tanyak” merupakan predikat dari kalimat di atas. Sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baku, dalam predikat tersebut harus dieksplisitkan prefiks ber-, yaitu “bertanya”. Jadi, kalimat yang benar adalah “Saya mau bertanya tentang perbedaan contoh interferensi morfologi dengan campur kode.”

b.         Penyingkatan prefiks meN-
Data:
    “Iya memang sama, tapi contohnya nyari sendiri.”
Pada kata “nyari” terdapat kesalahan yaitu penyingakatan morf meN- sehingga mengakibatkan kata tersebut tidak baku. Hal ini terjadi karena pengaruh dari bahasa ibu yang sering mereka pakai. Penyingkatan tersebut sebenarnya adalah ragam lisan yang dipakai dalam ragam tulis. Sehingga kata yang baku adalah meN+cari = mencari. Jadi, kalimat yang benar adalah  “Iya memang sama, tapi contohnya nyari sendiri.”

III.    Kesalahan Berbahasa Tataran Sintaksis
a.         Adanya pengaruh bahasa daerah
Data 1:
    “Kalau untuk masalah keren ndak papa ya? Kita kan masih            muda.”
Dalam ragam baku kata yang bercetak tebal di atas merupakan bentuk pemakaian frasa yang salah. “Ndak papa” merupakan frasa yang terpengaruh oleh frasa dalam bahasa Jawa yaitu “Gak popo”. Sehingga frasa yang tepat untuk digunakan dalam kalimat di atas adalah “tidak apa-apa”. Kalimat yang benar adalah “Kalau untuk masalah keren tidak apa-apa ya? Kita kan masih muda.”

Data 2:
    “Kalau menurut saya, misalnya ngasih contoh itu...”
Terdapat kesalahan dalam frasa yang bercetak tebal di atas. Frasa “ngasih contoh” merupan frasa yang terpengaruh oleh bahasa Jawa yaitu “Nge’i conto” sehingga mengakibatkan kalimat tersebut tidak baku. Frasa yang baku adalah “memberi contoh”. Jadi, kalimat yang benar adalah “Kalau menurut saya, misalnya memberi contoh itu...”

4.      Penutup
4.1  Kesimpulan
            Pada proses diskusi kelompok yang dilakukan oleh mahasiswa Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia angkatan 2009 terdapat kesalahan  berbahasa tataran fonologi, morfologi dan sintaksis. Bentuk-bentuk kesalahan berbahasa tataran fonologi meliputi:
a.       Perubahan fonem vokal
      Kata tidak baku                                Kata Baku
      temen-temen                                       Teman-teman
      pinter-pinter                                        Pintar-pintar
      sintakses                                              Sintaksis
b.      Penambahan fonem konsonan
      Kata tidak baku                                Kata baku
      Cobak                                                  Coba
      Tanyak                                                Tanya
c.       Penghilangan fonem vokal
      Kata tidak baku                                Kata baku
      Karna                                                  Karena
      Salamualaikum                                    Assalamualaikum
d.      Penghilangan fonel vokal rangkap menjadi fonem tunggal
      Kata tidak baku                                Kata baku
      Kalo                                                    Kalau
                        Bentuk-bentuk kesalahan berbahasa tataran morfologi dalam proses diskusi meliputi penghilangan prefiks ber- pada kata “tanya” yang seharusnya “bertanya” dan penyingkatan prefiks meN- pada kata “nyari” yang seharusnya adalah “mencari”. Sedangkan kesalahan pada tataran sintaksis adalah kesalahan karena adanya pengaruh bahasa daerah yaitu pada frasa “ndak papa” yang seharusnya adalah “tidak apa-apa” dan pada frasa “ngasih contoh” yang seharusnya adalah “memberi contoh”.

4.2  Saran
           Sebagai seorang mahasiswa seharusnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam proses pembelajaran berlangsung. Tidak sepatutnya jika mahasiswa program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia menggunakan bahasa Indonesia yang tidak seharusnya digunakan dalam proses pembelajaran. Mahasiswa yang merupakan calon guru tidak seharusnya menggunakan bahasa yang tidak benar, karena akan berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa anak didiknya kelak. Maka, mulai dari sekarang para mahasiswa diharapkan memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar.


Daftar Pustaka
http://ebsoft.web.id/kbbi-kamus-besar-bahasa-indonesia-offline-gratis/
Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia: Teori dan    Praktik. Surakarta: Yuma Pustaka.
Tarigan, Henry Guntur. 1985. Pengajaran Morfologi .    Bandung: Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 1988. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa.         Bandung: Angkasa.

           








                


      

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar